Rabu, 18 Januari 2012

Surat untuk anak-anak ku........





  

Sore itu aku bergegas untuk pulang kerja. Saat itu memasuki minggu ke-3 di awal tahun 2012. Kakiku sibuk mengayuh sepeda tuk menuju rumah karena hari nampaknya mau turun hujan. Selalu berusaha untuk hidup sederhana mungkin, menjadi kebiasaanku sejak masa kecil dulu hingga sekarang telah berkeluarga. Aku ingin anak-anak dan istriku merasa bangga menjadi bagian dari kehidupanku, dalam kesederhanaan.




Kuakhiri pada perjalanan pulang dengan ucapan salam tepat didepan pintu masuk rumahku. Aku pun tersenyum sambil berharap keajaiban terjadi hari ini. Namun senyumku itu seolah lenyap ditelan bumi ketika tiba-tiba pembantu yang membuka pintu rumahku. Lantas aku bertanya  ”teh, de Nada (anak bungsuku dari 3 bersaudara) sudah pulang...?". Dia menjawab..."belum pak....." Hanya itu yang terucap jawaban pertanyaanku setiap hari pulang kerja...sepi rasanya hidup ini.....





Aku terdiam. Langkahku terhenti dan jantung ku berdetak sangat cepat. Rasa lelahku yang hampir hilang, seketika musnah...kelelahan menghimpit ragaku. Akhirnya kupalingkan pandanganku ke  kucing Michi, Hibam dan Prikitiw peliharaanku. Dan aku pun berlalu dari hadapan pembantu dengan wajah dingin. Aku fikir dia pasti paham dengan apa yang sedang kurasakan saat itu.




Dalam perjalanan menuju ruang keluarga yang sepi, sungguh banyak yang hinggap dipikiranku. Aku bingung ...inikah kegalauan  yang juga pernah dirasakan oleh ayah lain...  yang kehidupannya semua diisi oleh kesibukan duniawi...?

Aku kadang tak paham dengan makna Rumahku adalah Sorga ku saat ini. Waktu kecil aku pernah merasakannya, ketika ayah dan ibu  masih berada di sampingku. Masa kecilku begitu indah...aku tidak pernah kehilangan nafas ayah ibuku ketika aku pulang sekolah, tapi ketika ayah ibu belum pulang, aku selalu menunggu didepan pintu rumahku agar ayah dan ibu segera pulang...walau itu pun hanya sekali-kali saja.

Tapi itu semua telah berlalu. Akankah suasana kembali sayang. Aku sangat merindukan kehadiran anak-anakku dan lainnya, ketika aku lelah setelah pulang bekerja.




Aku masih terpaku di tengah rumah dekat sofa tempat aku biasa melepas lelah sambil menonton televisi. Kulemparkan pandangan kosong ke pintu masuk. Kucing kesayanganku menjadi saksi retaknya ketegaranku. Suara musik mengalun dalam acara televisi, kurebahkan tubuh ini di sofa....akhirnya pikiran kosongku terbawa ke alam mimpi.




Binatang piaraanku menggaruk-garuk sofa tempat aku tertidur, membangunkan pikiran kosongku dalam tidur. Hanya inilah yang dapat sedikit menghibur kegundahan hati, lalu aku ajak bicara binatang kesayanganku...mata nya bersinar menatap wajah ku seolah dia mengerti apa yang ku katakan. meaaoooong.......!! Subhanallah.....

Azan manghrib telah berkumandang, aku bersujud dihadapan-Mu ya Rabb....

Ya Allah.....
Sekiranya aku diberikan cinta,
jatuhkan cinta ku padanya (anak-anakku dan istriku)....
yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu.




Aku adalah ayahmu, Anakku. Aku tak tahu bagaimana atau dengan bahasa seperti apa agar kau yakin bahwa aku adalah ayahmu yang sangat mencintaimu. Ayahmu inilah seorang lelaki yang telah menjadi lantaran bagi kelahiranmu ke dunia. Seorang lelaki yang diberi kepercayaan Tuhan untuk menaburkan benih-benih cinta dalam rahim ibumu yang gembur dan subur. 

Anakku, aku adalah ayahmu. Kau boleh coba membuktikannya dengan mengumpulkan semua kawan sebayamu yang senantiasa bermain-main denganmu. Kalian pun boleh memasang banyak ekspresi yang kalian mampu untuk mengelabuiku dan aku akan tetap dapat menunjukmu dengan jitu. Kalian, kau pun anakku, boleh menyangkalnya untuk memberikan ujian yang lebih sulit kepadaku walaupun aku telah memilihmu, tapi aku tidak akan sedikitpun menjadi ragu karena aku tahu dan yakin akan hatiku yang telah benar-benar terikat takdir Tuhan padamu.
Aku akan mengenali raut wajahmu, hapal aroma tubuhmu, menemukan pahatan-pahatan kalam Tuhan yang menunjukkanmu padaku dari tiap serat rambutmu.


Sepanjang waktu dan musim yang berlalu, harapan dan kerinduan akan selalu mengemuka, tetapi kau anakku, adalah penawar bagi segala jenuh dan kesedihan yang mengiringinya, ku berharap kau cepat pulang anakku. Dengan ketiadaanmu kini aku akan selalu yakin bahwa engkau sebenarnya sudah ada dalam perjalanan pulang.




Waktu sudah menjelang tibanya azan Isya, tapi entah mengapa rumah ini begitu terasa lama sepinya. Aku teringat ketika anak bungsuku menangis dikamarnya, bersamaan dengan itu..aku mendapatkan SMS dari kakak perempuannya yang sulung, dia sudah beranjak dewasa dan mau mencoba hidup mandiri dengan mengontrak rumah dekat kampusnya...isi SMSnya sangat mengejutkan hatiku, begini:

...." hai...bapak popoh..!! (aku menjerit sedih, biasanya anakku selalu memanggil "Ayah" tiba-tiba memanggil nama ku). bapak tu udah tua.....jangan pacaran lagi...!!kasihan si Ade, sekarang dia ingin pergi ke rumah kontrakan kakak...ade ngga betah tinggal di rumah......"  Allahuakbar...ya Allah...dosa apa yang telah aku perbuat selama ini, sehingga aku mendapatkan ujian begini beratnya......


Photobucket



Aku tak menghiraukan tuk membalas SMS anak sulungku...langsung ku bergegas menghampiri anak bungsuku yang sedang menangis dikamarnya. De.....knapa de nangis..? ayah minta maaf jika memang ada salah, jangan tambah lagi ujian ini menimpa pada ayah....ayo nak.... bicara lah....

Aku menangis tak kuat melihat bisunya anakku tuk bertutur, aku coba bicara.....berdasarkan pada isi SMS yang disampaikan kakaknya. De....ade harus yakin akan kasih sayang ayahmu, buat apa ayah selalu mengaji di tempat pengajian kalau akhirnya malah menyakiti anak-anaknya....ayah dengar ade punya pemikiran bahwa ayah pacaran lagi.....kenapa...? mang selama ini ayah nggak pernah memperhatikan anak-anaknya....termasuk ade...? malahan justru ayah yang hampir setiap saat menemani ade dan kakak di rumah ini, sedangkan Ibu hampir disibukan pekerjaannya dikantor dan sering meninggalkan kita di rumah ini.....



Ya...Rabb, kadang aku tidak sadar bahwa anak-anak ku sudah mulai merangkak dewasa...aku bangga dan  bersyukur memiliki ke-tiga anakku ini, aku yakin mereka itu sayang sama ayahnya sehingga terjadi hal tersebut di atas. Dan akhirnya aku kirim ketiga anak-anakku melalui SMS ketika itu juga....karena si bungsu nggak mau menjawap apa yang aku sampaikan, walaupun aku sudah berusaha agar dia mau bicara langsung sama ayahnya.

 ...."Ka...de.....Ayah bangga mempunyai anak yang sangat perhatian sama ayahnya, sehingga terjadi kekhawatiran itu, walaupun menurut ayah itu sangat berlebihan. Ayah mohon maaf kalau memang selama ini mugkin ayah kurang memberikan perhatian sama kalian, InsyaAllah ayah akan tunjukkan lebih besar lagi, bahwa ayah sangat sayang sama kalian. Sudah...sekarang kakak, ade....hilangkan prasangka buruk sama ayah, ayah tidak akan pernah tuk menyakiti anak-anaknya, ayah tidak mungkin punya pacar, karena itu bukan sesuatu yang akan membahagiakan ayah, malah sebaliknya. Yang Ayah harapkan selama ini adalah kehangatan di rumah ini...mari kita ciptakan "Rumahku adalah Sorga ku"....Ayah akan mencoba untuk selalu bersyukur pada Allah SWT, dalam keadaan suka maupun duka, tawa maupun tangis, senang maupun benci.........walaupun ini berat tuk dihadapi.......
Anak-anakku....ayo semangat...belajarlah dengan baik ya......ayah akan selalu mendo'akanmu, agar kalian mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan kelak mendapatkan pendamping hidup yang dapat memperdulikan perasaan hati kalian....Amin".




Azan Isya tlah berkumandang, aku bersiap tuk melaksanakan sholat Isya.... tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti dihalaman rumahku, aku buka pintu depan rumahku....Alhamdulillah, ternyata anak bungsuku pulang bareng bersama istriku..............